4 Pesan Moral dari Film Frozen

  • Whatsapp

Frozen bukan sekadar film, tetapi sebuah fenomena ledakan. Demikian kalimat awal sebuah artikel yang diterbitkan di media online asal Inggris, Mirror.

Ya, Film Frozen yang diproduksi Walt Disney kini sedang populer, terutama di kalangan remaja. Sejak demam Frozen melanda Inggris pada tahun 2013, kini film tersebut kembali dihadirkan dengan cara berbeda dalam menarik minat penggemarnya.

Film Frozen mampu membius penonton remaja sehingga mereka merasa memiliki ikatan batin dengan dua karakter dalam film animasi itu, yakni Elsa dan Anna. Keduanya dalam film itu merupakan dua bersaudara.

Perasaan memiliki ikatan dengan dua karakter itu mengajarkan remaja-remaja untuk mencari jati diri, arti penting persaudaraan dan saling menjaga kepercayaan.

Baca juga: 6 Fakta Unik dan Menarik dari Film Frozen

Pesan moral mendalam dalam film itu diulas secara cemerlang oleh dua psikolog, Maram Kia-Keating dan Yalda T Uhls dalam artikel kolaborasi mereka berjudul “The Psychology of why little kids are completely obsessed with ‘Frozen’?”.

Dalam artikel itu, kedua psikolog tersebut menjelaskan beberapa pesan moral dari film Frozen bagi para remaja. Berikut ulasannya.

1. Pencarian jati diri

Pada film Frozen 1, judul soundtrack film adalah “Let It Go” yang bisa dimaknai “Bebaskan”. Kalimat itu diulang-ulang dalam lagu tersebut hingga mampu menembus ruang batin para remaja.

Film itu seolah-olah memberi tahu kepada remaja yang jiwanya belum stabil tentang cara berperilaku, dan keinginan untuk terbebas dari beban.

Frozen mengajarkan anak untuk tak peduli di sekitarnya. Tak tak apa-apa jika rambut rontok, tak peduli dengan perasaan kewalahan serta cuek jika tak memenuhi harapan semua orang.

Lalu sekuel kedua Frozen, penonton remaja juga merasa menjadi Elsa ketika karakter itu bersiap memasuki tempat asing (Into the Unknown sebagaimana dilihat dalam soundtrack-nya).

Saat memanjat tembok di luar batas aman Arendale, Elsa merasa kecil ketika dihadapkan dengan kekuatan alam. Anak-anak memiliki ikatan batin dengan Elsa yang merasa kecil di hadapan orang-orang dewasa.

Perasaan itu tumbuh hingga memicu sebuah pemberontakan remaja untuk menemukan jati dirinya, menelusuri masa lalu orangtuanya.

2. Identitas

Karakter Elsa kembali menginspirasi anak-anak dan remaja. Elsa pernah mengalami perubahan fisik pertama pada Frozen I, dari awalnya berpakaian kaku dan jepit rambut menjadi gaun longgar dan gaya rambut baru.

Ada semacam identitas ganda dalam diri Elsa. Dia bisa menjadi perempuan yang anggun dan rapuh, tetapi di sisi lain dia juga bisa meniadi wanita yang kuat dan perkasa.

Baca juga: Seorang Ayah Ajarkan Anaknya tentang Kehidupan dengan Cara Ekstrem

Lalu pada Frozen 2, Elsa bernyanyi tentang “tidak berada di tempat yang seharusnya”. Bagi anak-anak dan remaja, perasaan Elsa itu mirip dengan perasaan mereka. Ada perasaan tak betah, baik di rumah maupun di sekolah.

Elsa adalah seseorang yang membentuk identitasnya sendiri. Bagi kebanyakan anak remaja, sosok Elsa adalah inspirasi untuk menemukan jati diri mereka, berusaha untuk mencari tahu akan menjadi apa mereka kelak.

3. Persaudaraan

Frozen merupakan film untuk keluarga. Banyak pesan moral yang ingin disampaikan dalam film besutan Walt Disney ini. Beberapa di antarana ada persaudaraan dan kepercayaan.

Psikolog Maryam Kia-Keating, dilansir Mirror, menyebutkan bahwa film Frozen sangat menekankan ikatan keluarga di antara saudara.

Elsa dan Anna adalah dua perempuan bersaudara. Elsa selalu melindungi adiknya, Anna. Elsa yang disebut Ratu masa depan merasakan bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar dalam melindungi adiknya, Anna.

4. Kepercayaan

Aspek psikologis dari film Frozen adalah ide tentang kepercayaan dan bagaimana kita membentuk sebuah hubungan.

Pada Frozen 2 kita lihat Elsa menunggangi seekor kuda air. Kenapa harus kuda? Sebab, kuda merupakan mahluk yang bisa liar dan tak bisa diprediksi, tetapi juga sangat loyal dan cerdas. Kuda-kuda itu merupakan hewan yang harus dibangun kepercayaannya oleh manusia.

Lalu ada kisah ketika Anna dikhianati oleh Hanz. Ini sebagai pelajaran bahwa tidak semua orang yang kita kenal itu jujur. Di depan seolah-olah mencintai, namun di belakang malah mengkhianati.

Sumber: Mirror

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *