Cara Bedakan Ponsel Rekondisi, Refurbish dan Black Market

Ponsel rekondisi, refurbish dan black market menjadi perhatian warganet pasca-penangkapan pemilik toko PS Store, Putra Siregar, dengan kasus ponsel ilegal. Ponsel-ponsel ilegal itu sering dijual dengan harga lebih miring dibanding ponsel baru dan resmi.

Selain ponsel ilegal atau biasa disebut black market, kita juga sering mendengar ponsel rekondisi dan refurbish. Harganya pun jauh lebih murah dibanding ponsel baru yang memiliki garansi resmi dari pabrik.

Tentu saja ponsel model rekondisi, refurbish dan ilegal, seperti itu memiliki kualitas yang berbeda dengan handphone yang dibeli dari diler resmi atau toko resmi. Lalu bagaimana cara membedakan ponsel tipe-tipe tersebut?

Ponsel rekondisi

Pengamat gadget, Herry SW dilansir Kompas Tekno menyebutkan, ponsel rekondisi adalah handphone bekas pakai yang mengalami perbaikan. Ponsel tersebut diperbaiki sedemikain rupa sehingga menjadi tampak baru. Cuma memiliki ponsel model ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Ponsel menjadi tidak awet dan mudah rusak.
Penyebabnya dua hal.

Pertama, ponsel rekondisi biasanya diperbaiki bukan oleh mitra resmi pabrikan, melainkan oknum-oknum yang jago servis HP. Kedua, tak jarang ponsel tersebut hanya diganti casingnya saja, sedangkan mesinnya tidak. Biasanya itu berlaku bagi ponsel yang memiliki mesin normal.

Selanjutnya, ponsel yang mesinnya rusak diperbaiki, namun komponennya mencatut dari sana sini alias kanibal. Suku cadangnya tidak original sehingga berpengaruh pada kualitas.

Ponsel refurbish

Ponsel refurbish berbeda dengan model HP rekondisi. Kalau refurbish memang ponsel yang sudah diperbaiki, namun itu dilakukan oleh pabrik resmi atau mitra pabrik resmi. Biasanya ponsel refurbish adalah HP baru yang dikembalikan oleh konsumen ke vendor karena mengalami cacat. Ponsel itu memiliki garansi resmi. Ada tiga tingkatan untuk model refurbish, yakni grade A dan B, tergantung masa garansinya.

Ponsel model ini masih layak dipakai meski hasil dari perbaikan. Namun demikian, kami menyarankan tetap beli ponsel baru dari diler resmi. Bukan apa-apa, ponsel refurbish biasanya sering ada sedikit kekurangan. Makanya harganya pun jauh lebih murah.

Ponsel jenis ini dijual resmi juga dan memiliki garansi. Namun menurut Harry SW dilansir Kompas Tekno, ada juga ponsel refurbish yang diimpor secara ilegal dalam jumlah banyak. Sehingga status hukumnya masih belum jelas.

Ponsel Black Market

Ponsel ini biasa disebut ponsel BM alias black market. Nah, kasus inilah yang diduga menjerat Putra Siregar. Ponsel BM bisa dikatakan ponsel selundupan sehingga status hukumnya ilegal.

Ponsel ini masuk ke Indonesia melalui jalur tidak resmi. Ponsel ini dipasarkan di Indonesia tanpa melalui uji tingkat kandungan dalam negeri dan Direktorat Daya dan Perangkat Pos dan Informatika. Pengimpor ponsel ini tidak membayar pajak sehingga tidak memiliki Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor.

Karena dijual secara tak resmi, maka ponsel ini tidak memiliki garansi baik dari vendor maupun distributor. Ketika mengalami kerusakan, ponsel ini tidak bisa diperbaiki ke vendor resmi. Paling banter ya servis ponsel biasa.

Kesimpulan

Demikian penjelasan tentang ponsel rekondisi, refurbish dan black market. Untuk lebih amannya, kami menyarankan Anda membeli ponsel baru dari vendor resmi. Selain kualitasnya terjamin, ponsel baru juga memiliki garansi resmi sehingga ketika mengalami kerusakan bisa diperbaiki di pusat servis resmi.

Tinggalkan komentar