Kisah Guru Honorer De Widia, Rela Pangku Domba demi Uang Halal

/
/
/
2 Views
Kisah guru honorer

Inilah kisah guru honorer De Widia yang rela memangku domba demi mendapatkan uang halal sebagai tambahan pendapatan untuk hidup.

Keikhlasan guru muda MI Terpadu Cintaraja, De Widia, bisa menjadi inspirasi bagi guru honorer lainnya.

Ia mengetahui bahwa menjadi guru honorer harus bekerja dengan penuh keikhlasan. Tak harus banyak mengeluh dan membanding-bandingkan dengan profesi lain, terutama soal materi.

Misalnya, profesi dengan pendidikan rendah, namun pendapatannya lebih besar. Sebab, jika sering mengeluh akan banyak orang yang nyinyir.

“Itu deritamu, makanya kalau mau kaya raya jadi pengusaha, jangan menjadi guru honorer. Kamu mau nggak jadi kuli bangunan gajinya lebih besar ketimbang guru honorer,” seperti itulah salah satu contoh nyinyirnya.

De Widia memahami betul bahwa mengajar itu sepenuhnya adalah pengabdian, bukan soal mengejar materi duniawi.

Ia sangat mengetahui risikonya. De Widia hanya punya keinginan menjadi guru yang dirindukan anak didiknya.

Begitu pun jika dirinya mentransfer ilmu ke anak didiknya, ia sedang berinvestasi kebaikan secara terus menurus yang pahalanya bisa dipetik kelak di akhirat.

Buktinya, ia tidak pernah hitung-hitungan soal waktu. Meski sebagai wali kelas dan diberi waktu libur sehari, namun pada waktu efektif pembelajaran, De Widia tetap datang ke sekolah.

Untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak gengsi berjualan, mulai dari telur bebek, telur asin, ikan tawar, pisang, melalui atau media sosial.

“Terkadang ada yang minta dijualkan, saya tawarkan ke yang membutuhkan, walau keutungannya hanya seribu atau dua ribu rupiah, insya Allah berkah,” katanya.

Hal yang membuat dirinya selalu ingat adalah ketika ia beberapa kali mengambil domba dari kampungnya di Pageur Ageung dengan cara dipangku.

Awalnya ia risih ketika mendapat pesanan domba. Namun akhirnya ia tetap memenuhinya demi mendapatkan uang yang halal.

Suaminya mengendarai motor, sementara De Widia mendapatkan tugas memangku domba dari Pageurageung, Kabuparen Tasikmalaya, ke Cibeureum, Kota Tasikmalaya.

“Dombanya teriak- teriak terus, seperti kesurupan, sepanjang saya berulang-ulang membaca ayat kursi, takut ada apa-apa di jalan,” kenang guru lulusan PG MI IAILM Suryalaya itu.

“Bukan hanya teriak-teriak, tapi celana saya sampai basah, karena dombanya berkali-kali ngompol, terasa hangat di celana,” tambahnya sambil tersenyum.

De Widia memang sosok guru honorer yang ikhlas dan pekerja keras. Ia ingin karirnya mengalir seperti air yang tenang menyelinap di bebatuan.

Bahkan ia juga tak memilih untuk mengikuti kesempatan testing CPNS, alasannya ia ingin menikmati dulu keikhlasan mengajar di MI Terpadu Cintaraja sebagai guru honorer.

“Bagi saya bisa mengabdi juga sudah cukup puas, saya dekat suami dan membantu pekerjaan suami. Sepulang mengajar, kalau pun memilih, saya memilih di sini saja sampai saya sudah tidak mampu lagi untuk mengajar di tempat ini, misalnya karena sudah uzur atau sudah tidak lagi diperlukan,” pungkasnya.

This div height required for enabling the sticky sidebar
English Indonesian
Ad Clicks :Ad Views :