Mengenal Situ Gede, Danau Terbesar di Kota Tasikmalaya

Situ Gede atau kalau dalam bahasa Indonesia disebut Danau Besar merupakan salah satu objek wisata yang ada di pusat Kota Tasikmalaya. Namun mungkin masih banyak yang belum tahu tentang sejarah objek wisata yang satu ini.

Situ Gede merupakan danau dengan luas sekitar 47 hektar di Tasikmalaya, Jawa Barat. Objek wisata ini cukup populer karena menawarkan pemandangan indah, suasana tenang dan lokasinya tak jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, hanya 30 menit.

Di bagian tengah situ terdapat sebuah pulau dengan luas 1 hektar. Di pulau itu ada makam Eyang Prabudilaya, seorang tokoh agama Islam yang disegani masyarakat Tasikmalaya. Traveler pun tak sedikit yang menyeberang ke pulau untuk ziarah ke makam Eyang Prabudilaya.

Fasilitas Situ Gede

Fasilitas buat pengunjung Situ Gede kini sudah cukup lengkap. Mushala, gazebo, toilet, hingga trek jogging tersedia di sini. Berbagai tempat makan yang menjual menu ikan khas daerah setempat juga ada, jadi wisatawan yang tidak membawa bekal pun bisa makan di sana.
Jika sudah datang ke sana jangan buru-buru pulang.

Menikmati sore yang syahdu di sana bisa membuat pikiran segar kembali. Tinggal duduk di gazebo dan nikmati pemandangan yang tersaji.

Selain potensial sebagai penampung air, kawasan ini juga memiliki potensi yang besar untuk kawasan wisata dan perikanan. Ketersediaan air di kawasan Situ Gede berasal dari kawah Gunung Galunggung yang mengalir melalui aliran Sungai Cikunir dan Saluran Cibanjaran di sebelah barat situ, Master Plan Situ Gede.

Situ terluas di kota berjulik Kota Santri ini secara kultural memiliki fungsi bagi perputaran roda sosial-ekonomi masyarakat Tasikmalaya.

Potensi sumber daya alam yang luar biasa yaitu bentangan objek wisata air berupa situ terluas di Kota Tasikmalaya dengan keanekaragaman flora dan fauna dapat dinikamati dengan udara yang cukup sejuk dan segar.

Bagi para pemancing mania, bibir situ, rakit, atau gazebo yang tersedia merupakan tempat yang nyaman untuk menununggu ikan yang kebanyakan ikan gabus memakan umpan pancingan yang dipasang.

Kuliner Situ Gede

Kenikmatan-kenikmatan tersebut menjadi berlipat tatkala dilanjutkan dengan wisata kuliner menyantap suguhan aneka ragam panganan yang dijual masyarakat setempat terutama makanan olahan ikan air tawar.

Fasilitas berupa jogging track tersedia sebagai wisata olahraga dengan lintasan trek yang menarik, yaitu mengelilingi pinggiran situ, masuk keluar hutan, melewati permukiman warga yang disertai fasilitas toilet, gazebo pada beberapa spot untuk beristirahat hingga menjelang sore menantikan senja datang melihat pemandangan alam yang indah.

Selain potensi sumber daya alam, Situ Gede juga memiliki potensi wisata pilgrim. Potensi ini merupakan pulau kecil (Pulau Nusa) yang terdapat ditengah situ dengan luas satu hektar yang dapat dijangkau dengan menggunakan rakit sambil menikmati keindahan Situ.

Pada pulau ini terdapat sebuah makam, yaitu makam Eyang Prabudilaya Kusumah yang sering menjadi tempat ziarah para wisatawan yang tidak hanya berasal dari daerah sekitar akan tetapi kebanyakan datang dari luar kota seperti Cirebon, Sukabumi, dan kota lain.

Wisatawan ini berkunjung dengan tujuan yang bermacam-macam, mulai dari melakukan tawasul di depan makam sampai dengan meminta kenaikan pangkat atau agar lulus dalam menempuh ujian.

Di samping makam Eyang Prabudilaya terdapat 2 buah makam pengikutnya yaitu Jayakerta beserta istri yang konon piawai nyinden (dibaca: penyanyi) karena itu tidak sedikit peziarah yang datang supaya suaranya menjadi merdu.

Sejarah Situ Gede

Bersumber dari masyarakat setempat, dapat diketahui perjalanan Eyang Prabudilaya sampai dengan dimakamkan di tempat tersebut.

Eyang Prabudilaya ini merupakan tokoh yang dihormati masyarakat Tasikmalaya yang memiliki garis keturunan dengan wali.

Dituturkan bahwa beliau memiliki 2 orang istri yang bernama Sekar Karembong yang kini dimakamkan di Bantar.

Sedangkan istri berikutnya, yakni Sembahdalem sampai saat ini menjadi tempat persemayaman terakhirnya tidak diketahui konon menghilang begitu saja (dalam bahasa sunda “nilem”).

Suatu ketika dua istri Eyang Prabudilaya mencari suami mereka karena menghilang dalam waktu yang lama. Istri pertama mencari ke tempat istri kedua dan begitupun sebaliknya sehingga mereka memutuskan untuk mencari bersama-sama.

Pencarian itu berbuah hasil. Sang suami ditemukan sedang matigeni atau bertapa di suatu tempat, lalu oleh istrinya dibawa pergi untuk kemudian dibunuh sehingga darahnya mengalir merah yang kini tempat terbunuhnya tersebut dinamakan Situ Cibeureum.

Oleh pengikutnya, Eyang Prabudilaya dibawa pergi dengan dipangku menggunakan kain samping yang diikatkan pada bambu panjang.

Di tengah perjalanan bambu tersebut patah akan tetapi dapat disambung kembali dengan menggunakan tanah untuk kemudian dipangku lagi.

Sehingga sampai sekarang tempat menyambungkan bambu menggunakan tanah tersebut dinamai daerah Mangkubumi.

Perjalanan kemudian berlanjut. Setelah cukup lama berjalan, tiba-tiba pengikutnya jongkok sehingga sampai saat ini tempat nagog/jongkok tersebut diberi nama daerah Nagrog.

Tak lama perjalanan dilanjutkan kembali. Setelah cukup jauh berjalan, lewatlah pada suatu tempat yang udaranya lumayan cukup sejuk dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Tempat peristirahatan tersebut sampai sekarang disebut daerah Maniis. Setelah lama beristirahat, digotong lagi jenazah Eyang Prabudilaya hingga pada akhirnya dimakamkan di pulau yang terletak di tengah Situ Gede.

Bersumber dari warga daerah Maniis yang terletak di arah timur laut Situ Gede, tinggi muka air pada bibir pulau di tengah Situ selalu sama meskipun pada musim kemarau ataupun hujan.

Bahkan keadaan tersebut tetap demikian di saat bagian situ yang lainnya dalam keadaan kering.
Adanya fenomena tersebut disimpulkan bahwa pulau tersebut dalam kondisi terapung tidak bersentuhan dengan dasar situ.

Di tuturkan pula bahwa pasangan pacaran yang datang ke Situ Gede dapat dipastikan akan berakhir dengan perpisahan.

Dan satu lagi adalah tuturan bahwa Situ Gede memiliki hubungan dengan Situ Panjalu yang berada di wilayah pemerintah Kabupaten Ciamis.

Keterhubungan tersebut berasal dari keberadaan ikan “si kokol” yang selalu berpindah-pindah dari Situ Gede ke Situ Panjalu dan sebaliknya.

Sampai dengan saat ini tidak bisa dipastikan bahwa seluruh masyarakat setempat mengetahui betul akan cerita-cerita tempat tinggalnya di masa silam.

Meskipun hanya secara singkat, akan tetapi tuturan-tuturan di atas sedikitnya dapat dijadikan sebagai permulaan untuk selanjutnya digali lagi lebih komprehensif dalam konteks sejarah yang unik sehingga mampu menarik minat wisatawan lebih banyak.

Itulah mungkin sejarah Situ Gede Tasikmalaya, objek wisata tersembunyi di pusat kota. Sebagai warga asli Tasikmalaya patutnya kita berbangga dengan adanya objek wisata yang satu ini. Tentunya kita harus menjaga kelestarian dan keasrian dari objek wisata Situ Gede ini.

Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke sini, Anda harus mencoba berwisata ke daerah ini. Anda dijamin tidak akan menyesal karena suasana di sana sangat menyegarkan, jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang penuh polusi.

You May Also Like

About the Author: Iqbal Rizki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *