Mi Rebeh Kampung Kolecer, Kuliner Tasik untuk Kekebalan Tubuh

Mi rebeh merupakan salah satu kuliner khas Kampung Kolecer yang terbilang baru dalam dunia wisata makanan di Tasikmalaya. Kendati demikian, kuliner yang satu ini sudah mulai mendapat penggemar, terutama mereka yang berkunjung ke Kampung Kolecer yang merupakan destinasi wisata alam di Cisyong, Kabupaten Tasikmalaya ini.

Kuliner ini dinamai Mi Rebeh yang artinya mi yang bisa membuat pemakannya seperti menangis. Ya, raut wajah yang bercucuran air mata dan berkeringat. Sebab, makanan ini dikenal dengan khas yang pedas alami karena berasal dari cabai rawit. Bagi Anda yang menyukai makanan pedas namun menyehatkan, tidak salahnya untuk mencoba Mi Rebeh.

Selain pedas, Mi Rebeh ini disebut-sebut mampu meningkatkan kekebalan tubuh alias imunitas. Sebab, menurut pemiliknya, makanan ini mengandung campuran rempah-rempah, mulai jahe, kayu manis, dan cengkih. Kuahnya juga kuah rendang yang dikenal pedas pula.

Selain rempah-rempah, ada pula bahan lainnya yang membuat mi ini mengandung gizi tinggi. Yakni telur rebus dan sayur mayur. Lalu di atasnya diberi topping cabai rawit. Topping inilah yang membuat Mi Rebeh pedas. Meski pedas, namun topping cabai rawit ini mengandung vitamin C. Jadi lengkap sudahlah bahwa Mi Rebeh ini kaya akan vitamin sehingga dipercaya mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Apalagi harganya juga terbilang ramah di kantong, yakni hanya Rp 15.000 per porsi.

Kampung Kolecer di Cisayong bukan hanya menyajikan alam yang sejuk dan pemandangan unik Kolecer, tetapi juga kuliner yang khas dan unik, yakni Mi Rebeh. Hal unik dari makanan mi ini adalah campuran bahan-bahan rempah yang dianggap mampu meningkatkan imunitas di tengah pandemi.

Diminati pengunjung

Mi Rebeh ini ditawarkan sebuah kafe di Kampung Kolecer dan termasuk pendatang baru. Kendati demikian, kuliner pedas ini mulai diminati para pengunjung Kampung Kolecer, terutama para pegowes yang mencari kuliner setelah berolahraga.

Eva Lidia, misalnya. Perempuan pegowes ini mengaku sangat menikmati Mi Rebeh. Apalagi suasana di Kampung Kolecer yang bernuansa pedesaan menambah kenikmatan tersendiri.

“Pedesaannya dapat, enak kok suasananya. Ini yang dicari. Kita kalau gowes-gowes nyari yang ada tempatnya,” kata Eva Lidia, salah satu pembeli Mi Rebeh sebagaimana dilansir Trans TV.

Teman Eva, Lidia Tanaman juga merasakan suasana yang sama. Menurutnya, Mi Rebeh sangat berasa pas di lidah dan takaran rempah juga sudah tepat. Lalu telur rebus yang menjadi salah satu elemen Mi Rebeh menjadikan makanan ini sangat bagus untuk kesehatan.

“Ini ada telurnya, sehat, ada rempah-remah, sayur. Rempah-rempahnya pas banget. Takarannya sesuai,” katanya sambil menyantap Mi Rebeh.

Tingkatkan imunitas

Pemilik kuliner Mi Rebeh, Kinkin mengaku pihaknya sengaja menamai kuliner ini Mi Rebeh karena memang membuat orang seperti menangis tetapi nikmat. Rebeh sendiri diambil dari Bahasa Sunda yang bermakna menangis.

Maksudnya, mi ini memang memiliki rasa pedas hingga membuat penikmatnya bercucuran keringat dan air mata seperti sedang menangis.

Namun meski pedas, kata Kinkin, tetapi Mi ini mengandung bahan rempah yang mampu menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh.

“Yang menjadi ciri khas Mi Rebeh itu adalah kuah dan rempah-rempah. Mi Rebeh ini cocok di masa pandemi karena mengandung rempah-rempah yang bagus untuk meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh,” katanya.

Dua jalan menuju Kampung Kolecer

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Kampung Kolecer tempat Mi Rebeh itu dijual, bisa menggunakan dua jalan. Pertama, dari Jakarta atau Bandung, petunjuk awalnya adalah Rajapola yang merupakan sentra kerajinan kayu dan bambu. Pastinya Anda mengenal kawasan Rajapolah itu.

Setelah dari Rajapola, Anda terus lurus sekitar 3 kilometer menuju Kota Tasikmalaya. Tepati di Pagendingan, Anda akan menemui pertigaan. Jika bingung soal Pagendingan, Anda tinggal bertanya pada warga sepanjang jalan itu nama Pagendingan atau Pesantren Fathiyah Al Idrisiyah (Fadris). Sekitar 30 meter dari pesantren itu ada jalan protokol di sebelah kanan menuju Cisayong.

Sekitar tiga kilometer dari Pagendingan, Anda akan menemui kantor Desa Cisayong. Sekitar 20 meter sebelum kantor desa, di sebelah kanan terdapat gerbang menuju Kampung Kolecer. Anda tinggal beli tiket Rp 4.000 per orang untuk bisa masuk ke kampung yang penuh dengan kincir angin itu.

Lalu jalan kedua adalah melalui Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga). Jalur ini terbilang lebih cepat dan praktis karena Anda tinggal lurus saja melewati sejumlah kemacatan, dan nanti akan menemui pertigaan kecil menuju Cisayong.

Bagi Anda dari Jakarta atau Bandung, setelah keluar dari terminal Ciawi langsung menyeberang ke jalan menuju Singaparna. Anda lurus saja sampai menemukan perempatan kecil di daerah Cisayong. Anda lalu belok kiri dan sekitar 500 meter akan menemui pintu masuk Kampung Kolecer.

Ada menu lain yang ditawarkan di Kampung Kolecer selain Mi Rebeh, yakni kopi khas Kolecer serta kopi lain seperti kopi vietnam, capuccino dan varian lain.

Bagi yang ingin menikmati nasi timbel khas Sunda dengan suasana pedesaan, Anda tinggal sedikit melangkah ke ujung barat. Di sana akan ditemui sebuah saung yang menyajikan nasi timbel. Selamat mencoba!

Sumber: Jalurtujuh

You May Also Like

About the Author: Farid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *