Sejarah dan Keunikan Kampung Naga di Tasikmalaya

  • Whatsapp
Sejarah Kampung Naga
Kampung Naga

Bagi Anda yang berkunjung ke Tasikmalaya tidak salahnya mengunjungi Kampung Naga karena memiliki sejarah dan keunikan tersendiri.

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasinya menghubungkan Kota Garut dengan Kota Tasikmalaya.

Kampung ini merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda.

Seperti permukiman Baduy, menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda dan merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari.

Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Bahkan kampung ini juga terkenal sebagai kampung yang tidak menggunakan listrik sebagai bantuan pencahayaan, namun masih bertahan dengan menggunakan damar atau masih bisa dibilang tradisional sekali. Sekalipun pemerintah pernah memberikan tawaran berupa bantuan listrik, mereka menolak.

Tidak berhenti sampai di situ. Karena mereka masih menggunakan pencahayaan tradisional, pemerintah pun memberikan bantuan khusus berupa minyak tanah setiap tahun, sebagai kebutuhan pokok warga kampung tersebut.

Awal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini.

Warga Kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”.

Mengenai kampung ini, dulu memang pernah dibakar oleh DI/TII yang berada di bawah pimpinan Kartosoewiryo. Mulai dokumen hingga benda pusaka, bahkan sebagian dari warga konon ikut terbakar.

Jadi bisa dikatakan bahwa warga Kampung Naga tadi disebut  dengan istilah “Pareum Obor”.

Sebelumnya, para peneliti pernah memberitahu mengenai keturunan siapa saja warga Kampung Naga itu. Namun itu masih belum bisa dipastikan kebenarannya.

Syarat pernikahan

Sekilas cerita mengenai Kampung Naga yang sangat lekat sekali dengan adat istiadat yang mereka pegang. Salah satunya adalah mengenai pernikahan. Masalah pernikahan memang bebas, namun bersyarat.

Terdapat dua syarat untuk pernikahan. Syarat pertama itu pasangan haruslah menganut satu kepercayaan, yaitu Islam. Kemudian  syarat kedua yang terbilang mutlak, yakni harus dengan lawan jenis tentunya.

Setelah menikah pun mereka boleh tinggal di luar kampung. Kalaupun ingin tinggal di Kampung Naga, mereka harus mempunyai rumah atau lahan. Mereka juga harus mengikuti aturan adat yang sudah baku.

Kampung Naga ini memiliki luas lahan 1,2 hektar. Salah satu keunikan dari kampung  ini adalah seluruh wilayah yang termasuk Kampung Naga dikelilingi oleh pagar sebagai tanda batas  permukiman.

Kampung naga sangatlah berbeda dengan kampung lainnya. Di kampung ini biasanya dalam satu rumah terdapat satu kepala keluarga. Kalaupun misalnya terdapat satu atau dua kelapa keluarga itu sebenarnya tidak diperbolehkan.

Kemudian untuk larangannya cukup banyak. Para sesepuh di Kampung Naga sering mengistilahkannya dengan kata “pamali”.

Hutan larangan

Salah satu larangan yang terkenal adalah siapa pun tidak boleh memasuki hutan larangan yang berhadapan langsung dengan aliran sungai. Tidak boleh ada satu orang pun yang memasuki hutan tersebut apapun alasannya. Kebetulan hutan ini membatasi wilayah Kampung Naga sebelah timur. Sementara wilayah barat dibatasi bukit. Sebelah selatan dibatasi parit kecil. Ketiga batas tersebut menjadi batas batas wilayah yang termasuk Kampung Naga.

Bilamana sudah keluar dari ketiga batas tersebut, berarti sudah berada di luar Kampung Naga. Di luar Kampung Naga bukan berarti Naga luar, karena tidak ada istilah itu. Istilah yang biasa disandangkan pada perkampungan di luar Kampung Naga adalah Sanaga.

Tradisi ketupa di pintu rumah

Kemudian keunikan berikutnya adalah di kampung ini terdapat tradisi setiap rumah di bagian pintu dipasangi ketupat yang sudah matang. Ketupat tersebut diganti secara rutin setahun sekali. Ketupat ini disebut dengan Ketupat Selamet yang diyakini mereka sebaga bentuk tolak bala.

Selain tradisi yang dimiliki, sebagian dari warga kampung ini juga mengisi kegiatan sehari-harinya dengan membuat kerajinan tangan khas, seperti tas selendang rajut dan berbagai jenis anyaman bambu.

Dari hasil bambu yang ditanam, mereka memanfaatkannya dengan dibuatkan banyak kerajinan. Para wisatawan yang berkunjung pun dapat membeli langsung dari warga.

Hasil dari buah tangan mereka bukan hanya dijual di dalam kampung sendiri, tetapi juga sudah menyebar luas di mana-mana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *